Informasi Lifestyle Teknologi

Komitmen Royal Golden Eagle Untuk Serat Tekstil Berkelanjutan

inside rge
Image Source: Inside RGE

Buyavana – Kelestarian alam selalu dikedepankan oleh Royal Golden Eagle (RGE). Mereka mewujudkannya dengan berbagai cara. Salah satu yang terbaru ialah dengan memperlihatkan komitmen tinggi terhadap industri serat tekstil yang berkelanjutan.

Royal Golden Eagle adalah korporasi kelas internasional yang bergerak di sektor sumber daya alam. Perusahaan ini didirikan pada 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas. Namun, seiring dengan arah perusahaan yang menuju ke pentas global, Raja Garuda Mas akhirnya bertransformasi menjadi RGE.

Industri serat tekstil merupakan salah satu bidang yang ditekuni oleh Royal Golden Eagle. Mereka membawahi Sateri dan Asia Pacific Rayon (APR) yang memproduksi serat viskosa. Dari sinilah komitmen RGE untuk serat tekstil berkelanjutan muncul.

Sateri merupakan pemimpin global dalam produksi serat viskosa. Setiap tahun, mereka mampu mencapai kapasitas produksi 1,1 juta metrik ton berkat pengelolaan empat pabrik di Jiangxi, Fujian, dan Jiangsu di Tiongkok. Keempatnya dikenal sebagai salah satu fasilitas produksi serat viskosa berteknologi tertinggi di dunia. Berkat itu, Sateri mampu mengelola operasional perusahaan dengan prinsip kebejuga merupakan salah satu perusahaan Royal Golden Eagle kebanggaan Indonesia. Berbasis di Pangkalan Kerinci, mereka memiliki fasilitas produksi terintegrasi seratus persen dengan perkebunan pertama di Asia. Karena itulah, APR sanggup menggapai kapasitas produksi 240 ribu metrik ton setiap tahun.

Sebagai induk perusahaan, Royal Golden Eagle mendukung penuh kiprah Sateri dan APR. Baru-baru ini tekad tersebut dibuktikan dengan mendukung pengembangan industri tekstil berkelanjutan yang ditekuni keduanya. Caranya ialah melalui komitmen investasi senilai 200 juta dolar Amerika Serikat (AS) selama 10 tahun ke depan dalam penelitian dan pengembangan serat tekstil selulosa.

Tekad tersebut telah diungkapkan menjelang Textile Exchange Sustainability Conference di Vancouver pada 18 Oktober 2019 lalu. Di sana RGE berjanji akan mendukung solusi dalam selulosa alternatif atau bahan baku dan manufaktur lingkaran tertutup.

Investasi yang dijanjikan bakal dialokasikan ke dalam tiga bidang dengan porsi berbeda-beda. Alokasi 70 persen untuk upaya meningkatkan teknologi bersih dalam pembuatan serat. Lalu, 20 persen lainnya ke produksi skala percontohan ke skala komersial. Sedangkan sisanya dialokasi untuk penelitian dan pengembangan dalam solusi perbatasan yang muncul.

“Ini adalah area pertumbuhan bisnis yang strategis untuk RGE. Portofolio perusahaan kami yang terintegrasi di seluruh produksi pulp, serat, dan benang menempatkan kami pada posisi hulu yang unik dalam rantai nilai tekstil. Kami ingin mewujudkan skala komersial dan solusi terjangkau yang mendukung produsen dan merek hilir,”  kata Vice Chairman RGE, Bey Soo Khiang. “Kami bukan hanya bercita-cita menjadi produsen viskosa terbesar, tetapi juga menjadi pemimpin dalam produksi serat tekstil berkelanjutan melalui inovasi.”

Komitmen RGE sudah diawali dengan sejumlah langkah. Pada bulan Agustus 2019, mereka telah berinvestasi di perusahaan Finlandia, Infinited Fiber (IFC). Langkah ini demi menghadirkan bahan baku alternatif yang bisa mendorong perubahan.

Direncanakan, kerja sama itu sudah akan membuahkan hasil nyata pada awal tahun 2020. Saat itu pabrik pra-komersial dengan kapasitas 500 ton di Finlandia akan siap. Begitu pula halnya dengan pusat pelatihan pelanggan.

Sebelumnya, pada bulan Mei 2019. RGE sudah menandatangani nota kesepahaman dengan re:newcell untuk kerjasama teknis dan uji coba pada produksi viskosa menggunakan kapas daur ulang. Langkah ini diharapkan bisa menghadirkan produks dengan skala industri pada tahun 2025 nanti.

Selain itu, Royal Golden Eagle telah memulai diskusi kemitraan dengan Fashion for Good. Ini merupakan platform inovatif yang berada berfokus pada percikan, penskalaan teknologi, dan model bisnis yang memiliki potensi terbesar untuk mengubah industri fashion

Selain itu, tim R&D internal RGE melakukan penelitian tentang bahan baku selulosa alternatif seperti limbah pertanian dan kapas daur ulang. Mereka juga meneliti manufaktur loop tertutup untuk produksi viskosa dan bekerja sama dengan universitas terkemuka dan pusat R&D global dalam berbagai hal.

DISAMBUT BAIK

inside rge
Image Source: Inside RGE

Langkah yang dilakukan oleh Royal Golden Eagle jelas disambut baik oleh Sateri dan APR. Kedua perusahaan merasa terdukung dalam upaya menjalankan operasional yang bertanggung jawab. Hasil riset yang didukung RGE diyakini bakal memudahkan dalam menghasilkan serat tekstil berkelanjutan.

“Sateri bangga menjadi bagian dari komitmen jangka panjang yang telah dibuat RGE. Kami berharap dapat mendukung dan meningkatkan solusi yang dapat membantu Sateri dalam memproduksi bahan yang berkelanjutan dan memberikan produk berkualitas tinggi serta terjangkau kepada pelanggan kami,” ujar Presiden Sateri, Allen Zhang.

Selama ini, operasional yang memerhatikan alam sudah dijalankan oleh Sateri. Mereka mendapatkan bahan baku dari perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan dari Indonesia dan Brasil. Pasokan pulp tersebut diperoleh dari anak perusahaan RGE lain, yakni APRIL Group dan Bracell.

Pabriknya juga salah satu fasilitas termodern di dunia. Itu memungkinkan Sateri meminimalkan dampak operasional terhadap lingkungan. Sebagai contoh, sisa produksi yang dihasilkan sangat minim. Begitu pula air dan limbah bisa diproses dan didaur ulang untuk dipakai lagi.

Tidak mengherankan Sateri menjadi contoh bagi berbagai perusahaan lain terkait kemampuannya menjaga operasional yang ramah terhadap lingkungan. Bukan itu saja, mereka pun menjadi salah satu anggota dan pendiri Collaboration for Sustainable Development of Viscose (CV) yang mendorong pelaku industri tekstil menjawab tantangan terkait keberlanjutan.

Sementara itu, nada gembira seperti yang disuarakan oleh Sateri dihadirkan pula oleh APR. Deputy Head APR, Ben Poon menyatakan investasi untuk riset yang dikucurkan RGE akan mempermudah untuk menjaga industri serat tekstil berkelanjutan.

“Komitmen ini menanggapi dua tantangan lingkungan yang mendesak yang dihadapi industri tekstil seperti peningkatan permintaan untuk serat sintetis dan alami untuk produksi tekstil dan peningkatan limbah tekstil. Limbah tekstil dapat didaur ulang sebagai bahan baku menangani kedua masalah secara bersamaan,” katanya.

Selama ini APR menghasilkan serat viskosa serbaguna yang dapat diterapkan pada pakaian, tekstil rumahan dan tekstil teknis yang terbuat dari selulosa kayu alami. Adapun bahan baku diperoleh dari perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan. Dukungan investasi terhadap riset serat tekstil yang dilakukan oleh RGE akan mempermudah APR dalam mempertahankan standar operasional tertinggi.

“Investasi RGE akan membantu APR dalam mendukung pengembangan industri tekstil Indonesia dengan mengurangi ketergantungannya pada kapas dan impor viskosa. Ini sejalan dengan peta ‘Menjadikan Indonesia 4.0′ yang memprioritaskan pengembangan di lima sektor manufaktur, termasuk tekstil untuk meningkatkan ekspor dan PDB,” kata Direktur APR, Basrie Kamba.

Keberlanjutan memang bukan hal baru bagi RGE. Pendiri sekaligus Chairman, Sukanto Tanoto, sudah menjadikannya sebagai bagian dari prinsip kerja perusahaan. Oleh sebab itu, semua pihak di Royal Golden Eagle diwajibkan untuk menjaga lingkungan.

Lebih lanjut, semua pihak di Royal Golden Eagle diharuskan mampu berguna bagi masyarakat (Community), negara (Country), iklim (Climate), pelanggan (Customer), sehingga akan baik bagi perusahaan (Company). Itulah prinsip kerja RGE yang diwujudkan dalam upaya menghadirkan industri serat tekstil yang berkelanjutan.